Bupati Majalengka dan Bupati Kuningan melakukan pertemuan bilateral guna membahas soal pembentukan Provinsi Cirebon di Pendopo Majalengka, Kamis (12/2). Dalam pertemuan itu belum dicapai kata sepakat karena masih terjadi perbedaan paham mendasar, namun keduanya menyepakati untuk melakukan pertemuan lanjutan guna membahas kekayaan masing-masing wilayah, dampak sosial, dan ekonomis jika harus dibentuk provinsi baru.
Kehadiran Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda ke Majalengka disertai Wakil Bupati Momon Rochmana dan beberapa stafnya serta konsultan yang selama ini terlibat dalam pembangunan Kabupaten Kuningan. Sedangkan dari pihak Pemkab Majalengka, Bupati H. Sutrisno juga disertai Wakil Bupati H. Karna Sobahi, Sekda Majalengka H. Herman Sendjaja dan hampir seluruh stafnya.
Aang dan Sutrisno menyebutkan, Kabupaten Kuningan dan Majalengka harus menjadi penentu dibentuk tidaknya suatu provinsi di Cirebon, untuk hal tersebut perlu pembahasan yang matang.
“Semuanya harus dikaji, bagaimana dampak ekonominya dan bagaimana dampak sosial yang bakal timbul dengan provinsi baru ini. Kalau Kabupaten Cirebon dan Indramayu sudah demikian intensif dan pembahasan persoalannya pun sudah semakin menghangat. Kami pun harus ikut menyikapi walapun mungkin pada akhirnya untuk memutuskan hal ini kita melihat perkembangan lebih lanjut,” ungkap Aang.
Menurut Aang, pembentukan provinsi tidak bisa dilakukan hanya dengan kekuatan emosional kewilayahan, namun harus dikaji persoalan-persoalan sosial dan ekonomi, seperti halnya kekayaan alam yang dimiliki masing-masing daerah harus dihitung secara cermat.
“Persiapan untuk pembentukan suatu provinsi harus demikian matang, terutama pembangunan infrastuktur harus lebih dulu dilakukan. Jangan sampai setelah dibentuk provinsi malah menjadi mundur, dan itu akan mengorbankan masyarakat,” ungkap Aang yang berharap pembangunan Bandara dan Pelabuhan Cirebon bisa segera direalisasikan jika provinsi harus dibentuk.
H. Sutrisno mengatakan, terjadinya pemecahan wilayah akan lebih efektif dalam memberikan pelayanan terhadap publik. Namun, dia sependapat soal perlunya kajian lebih komprehensif menyangkut berbagai persoalan, baik persiapan pembentukan dan setelah pembentukan.
Dia juga menyebutkan soal latar belakang munculnya gagasan pembentukan Provinsi Cirebon akibat Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang terus mengonsentrasikan pembangunan di wilayah Kota Bandung dan Priangan, sementara di wilayah III Cirebon seolah terabaikan.
“Kalau tidak ingin misah, pembangunan ya jangan terus dikonsentrasikan di Kota Bandung, karena masyarakat Majalengka dan Kuningan pun sama masyarakat Jawa Barat,” ungkap H. Sutrisno.








Jangan lupa wahai para pemegang kebijakan bahwa majalengka dan kuningan merupakan satu kesatuan dengan jawabarat dan secara geografis majalengka kuningan tidak termasuk PANTURA yang akan membentuk provinsi cirebon.
terimakasih bravo prabu siliwangi.
By: Bahureksa on 3 March 2009
at 23:48
sumuhun sim kuring sapamikiran sareng bahureksa yen majalengka jeung kuningan masih keneh asup ka wewengkon jawa barat jeung tradisi na ge tradisi sunda, wilayah na ge teu ka asup wilayah pantura,
By: bachar juna fadilla, munjul majalengka on 8 April 2009
at 05:02
warga mah ga setuju pembentukan prop cirebon yg ingin menjadikan prop mah… itumah orang yg menjadi pimpinanya aja…
jadi jngn disangkut pautkan antara politik. yg menjadi ide pilkada gubernur adalah KAB indramayu
tadinya mau jadi prop pantura, …..kab karawang ga mau sama subang sayamah warga sekali lagi gasetuju kita lihat ke depanya …….BUUNGG ?
By: Mega on 26 May 2009
at 04:02
JNGN EMOSI GA TERPILIH JADI CALON GUBERNUR WKL PADA PILKADA GUBERNUR JABAR .
JADI MORANG MARING INGIN MEMISAHKAN INGIN MEMBENTUK PROP PANTURA ……..JNG EMOSI MAS
KAB KRW & SUBANG ……GIMANA MAS GA MAU MALU dehhhhh kasihan de lho ?
By: yudi on 26 May 2009
at 04:18
#
JNGN EMOSI GA TERPILIH JADI CALON GUBERNUR WKL PADA PILKADA GUBERNUR JABAR .
JADI MORANG MARING INGIN MEMISAHKAN INGIN MEMBENTUK PROP PANTURA ……..JNG EMOSI MAS
KAB KRW & SUBANG ……GIMANA MAS GA MAU MALU dehhhhh kasihan de lho ?
By: Mega on 26 May 2009
at 04:21
Terlalu dini, bagi Majalengka untuk membicarakan pembentukan provinsi meskipun merger dengan wilayah lain membentuk provinsi baru,,, berbicara pembentukan provinsi jangan dilatarbelakangi kecemburuan atau merasa tidak tersentuh pembangunan yang dilakukan dari pusat,,, pembanguan yang adil dan merata sudah menjadi amanah seorang pemimpin,,, dan rakyat akan senantiasa menanti pemimpin yang amanah,,, dan kita perlu menyadari semua itu membutuhkan waktu dan proses yang panjang untuk menciptakan pembangunan hingga ke pelosok masyarakat terpencil,,,, Sutrisno sudahkan anda berlaku adil??? sudahkan anda mengunjungi semua warga yang ada di wilayah Anda??? apakah mereka yaitu warga-warga yang belum merasakan kinerja Anda lantas mereka akan memisahkan dari Majalengka??? …Intinya adalah mari kita selesaikan dahulu permasalahan-permasalahan internal di wilayahnya masing-masing,,, Jika pembentukan provinsi baru menjadikan Majalengka lebih baik kenapa tidak??? tetapi jika sebaliknya yaitu hanya ingin sekedar menunjukkan keegoisan wilayah semata, mengapa harus misah dari Propinsi Jawa Barat???
By: Roy on 2 June 2009
at 13:05
Sy rasa persoalan yg muncul di kalangan warga di indramayu atau pun cirebon untuk memisahkan diri dari jawa barat, faktor utamanya adalah ketidak puasan atau merasa termarginalkan dalam hal sosio-kultural, karena faktanya warga di kedua wilayah ini mempunyai kultur yg berbeda dgn wilayah lainnya di tanah pasundan yg membentang dr kuningan sampai bogor yg mempunyai kultur sunda.
Soal ketidak puasan pembangunan menurut sy bukanlah faktor utama, karena menurut saya pembangunan yg selama ini dilakukan di bandung,bogor,karawang dan wilayah lainnya di Jawa barat tidak mutlak dilakukan oleh pemprov. Faktor yg juga penting di saat OTDA telah menyentuh tingkat kabupaten adalah kreativitas warga maupun pemkab utk membangun wilayahnya.
Dan pembangunan tidak selamanya selalu dilihat secara fisik saja,misal dari gedung2. Tp juga ada pembangunan di bidang pertanian, perkebunan, industri, dll. yg disesuaikan dengan kondisi sosiokultur dan geografis daerah. Banyak jg daerah yg lebih buruk misal di selatan jawa barat.
By: Rudi on 16 August 2009
at 19:36
Sy sependapat dgn bung Roy, jika alasan ketimpangan selalu dijadikan alasan, mungkin di Indonesia akan ada lebih dari 100 provinsi atau 2000 kab atau jgn2 ada jg daerah yg ingin memisahkan diri dari Indonesia. Tp kita jangan dulu lah,terlalu jauh kesana!
Bicara ketimpangan sy rasa wilayah lain di Jawa Barat jg merasa hal yg sama, contohnya wilayah pantai selatan Cianjur,sukabumi,dan garut yg sangat jauh sekali tertinggal. (coba sekali2 anda kunjungi). Tp mereka tdk minta jd provinsi sendiri? Tp cirebon yg sudah sangat lebih maju kok? (ada alasan apa dibalik itu?).
Apabila ego dipelihara mungkin jawa barat juga ingin mengganti nama jadi pasundan atau parahyangan! Betul apa tidak?
Keinginan pembentukan provinsi sendiri memang sah2 saja, tp klo sy amati gaungnya justru tidak sampai menyentuh masyarakat menyeluruh, ini hanya ramai di kalangan tertentu saja. (pantas saja SBY melarang pembentukan daerah baru, mungkin trauma karena kasus provinsi Tapanuli? Hanya Allah yg tahu!)
By: Rudi on 16 August 2009
at 20:44
SAYA SETUJU KALAU UNTUK JADI PROVINSI CIREBON JANGAN DIDASRKAN HANYA EMOSI SEMATA TAPI LIHAT DULU KEMAMPUAN TIAP2 KABUPATEN….PERCUMA SAJA SUDAH DIBENTUK PROPINSI CIREBON TAPI PELAYANAN PUBLIK DAN PEMBANGUNANNYA TETAP SAJA KAYAK SEKARANG..PENGKAJIAN NYA HARUS LAMA DAN MELIBATKAN KONSULTAN YANG KOMPETEN…SEBAGAI WARGA MAJALENGKA SAYA BERHARAP PA BUPATI DAN JAJARANYA HARUS BERPIKIR LEBIH REALISTIS DAN BIJAKSANA SEMUA DEMI SATU TUJUAN MESEJAHTERAKAN RAKYAT MAJALENGKA…
By: razr on 27 August 2009
at 03:13